Hadirmu Membuatku Mencintaimu



Namaku lifa, sebagai murid baru di SMA ini, aku sangat senang karena teman-teman baruku menerima kehadiranku. Bahkan tidak membutuhkan waktu lama, aku memiliki sahabat baru di sini, dia bernama athiya dan shazfa.

Aku sekelas dengan seorang cowok yang selalu terdengar dalam telingaku bahwa banyak perempuan yang menyukainya entah karena tampan atau kepintarannya. Feri namanya. memang, menurutku ia tampan dan juga pintar. Tapi ya sudahlah, aku disini hanya berfokus pada kesuksesanku dan aku selalu memotivasi diriku untuk rangking pertama karena itu kebiasaanku sejak dulu untuk belajar lebih rajin. Jadi, aku tak berpikir apa pun tentang apa itu cinta, perasaan dan lainnya karena bagiku cinta itu mengganggu kesuksesanku dan fokus belajarku.

Awalnya, aku  kesal dengan feri, hampir aku membencinya, karena memang sejak pertama berkenalan di kelas dia memang sok dekat, sok asyik. Dan entah kenapa akhir akhir ini dia selalu memintaku untuk sebangku dengannya. Namun, aku tak bisa ngelak karena dia ketua kelas yang selalu mengatur kelas dengan  seenaknya. Dia yang selalu meminta contekan kepadaku ketika latihan soal, padahal dia yang terpintar di kelas. Dia yang selalu meminjam pulpen dengan alasan tidak membawanya, Dia yang selalu mengumpulkan latihan soal harus lebih dahulu dariku, atau harus bareng dengannya. banyak lagi dia yang selalu mencari perhatian kepadaku. Batinku bertanya tanya, mengapa dia paling banyak yang disukai perempuan, padahal aku sangat kesal padanya. Hampir setiap hari dia selalu menggangguku, tapi tak ku temukan rasa kecewa apapun darinya, namun setiap kali aku kesal dengan seseorang, yaa syaila namanya. Perempuan yang mencintai feri sekaligus menjadi  sahabat feri dari setahun yang lalu dan ia adalah partner ketua kelas dengan feri. Sedang feri adalah orang yang paling peka terhadapku, karena dia yang paling tahu kalo aku kesal dengannya. Mungkin karena dia cemburu terhadapku karena aku selalu duduk dengannya atau selalu bercerita atau bekerja sama dalam latihan soal dengan feri. Sering kali syaila menatapkan mata kepadaku dengan tatapan yang tajam ketika aku sedang mengobrol atau tertawa dengan feri. aku tahu perasaannya dan aku langsung pura pura mengerjakan soal atau aku pergi ke tempat duduk dengan sahabatku.

14 November pun tiba, yang dimana hari ulang tahunnya feri, aku memberinya kado untuknya, yaa mungkin hanya sebatas kado kecil dan ucapan HBD untuknya, aku menitipkan kadonya kepada dimas, sahabatnya.

Kring,,,, Bel istirahat pun tiba. Waktuku untuk istirahat bersama temanku athiya dan shazfa yang selalu pergi ke kantin bersama dan selalu berbagi cerita bersama. Sesampainya kami di kelas, pokkk,,, suara dari belakang yang menyentuh pundakku yang mengagetkanku dan memelukku dari belakang. “Lifa, makasih banyak.” Ucap feri. Sahabatku dan teman sekelasku pun kaget apa yang dilakukan feri kepadaku terutama syaila yang langsung menyorotkan mata yang tajam kepadaku, mungkin karena cemburunya itu. Aku pun langsung melepas pelukannya dan menengoknya dari belakang. Entah karena hal apa jantungku berdegup kencang ketika dipeluknya, dan rasa kagum ku berubah menjadi suka. Baru kali ini ku dapati rasa cinta pertamaku yang seperti itu. “Hmmm,,,” jawabanku. Dan seketika itu juga kelasku hening dan kaget apa yang dilakukan feri terhadapku. “nihh es krim buat lu fa, buat lu yang udah ngasih gw kado” pinta feri. “gak usah fer” aku pun menolaknya. “ini khusus buat lu fa, gw cuman ngasih ke teman teman gw doang, cowo. Buat lu, khusus satu satunya cewe yang gw kasih” ujar feri “ayokk fa terima es krim dari gw” ucap feri yang memegang tangan gw untuk memaksa menerimanya. “fa, ambil fa” ujar dimas, sahabatnya. “makasih fer” ucapku yang menerima es krim darinya. “yes” ucap feri dengan girang, “aku bingung kenapa dia begitu senang memberiku es krim di hari uang tahunnya dan kenapa aku satu satunya perempuan yang diberinya? Kenapa dia ga ngasih ke partnernya, syaila. Padahal ia jelas jelas menyukainya. Eratnya tanganku yang ditarik kencang oleh athiya dan shazfa yang mengajakku ke taman yang dimana tempat untuk makan para siswa. Setiba di taman Ku dengar suara tangisan seseorang dan terdengar beberapa kalimat. “kenapa sih,, lifa selalu aja caper ke feri,, ihh kesel banget,, aku kasih kado ke feri tapi ga dibuka sama dia, tapi kalo lifa aja langsung dibuka” ternyata dari syaila yang ternyata menangis di samping sahabatnya tepat depan mejaku. Seketika itu juga athiya dan shazfa membawaku ke samping taman “fa, mendingan lu jauhin feri dari sekarang, karena syaila selalu bikin lu gelisah karena dia cemburu ke lu, gw juga gak mau lu selalu kesel dan terkadang lu nangis karena perlakuan syaila itu. Mungkin dari sekarang lu gak ngomong sama feri dehh” pinta athiya yang tidak ingin aku selalu kecewa karenanya. ”kayaknya dia suka sama lu fa” ucap shazfa. Hatiku pun berdegup kencang ketika sahabatku berkata itu. Inilah yang pertama kali ku rasakan selama hidupku.

Keesokan harinya aku pun bertekat untuk sama sekali tidak ingin berbicara dengan feri meskipun aku duduk disampingnya. Mata sinis yang selalu tertuju padaku, syaila, yang membuatku selalu tak nyaman dikelas ini. “fa, gw mau lihat jawaban No. 4 dong” tanya feri. diamku selalu menutupi mulutku untuk tak berucap satu katapun dan tanganku selalu mengelak ketika ia mencoba merebut buku dariku. “fa, lu kenapa sama gw? Lu marah fa gara gara kemarin? Syaila ngomong apa ke lu sampe lu ngediemin gw?” tanya feri yang mulai sadar kalo gw ngediemin dia. Aku terdiam lagi seperti yang ku tekatkan sebelumnya. Ku lihat feri yang serius sekali mengerjakan latihan soal itu tanpaku yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya di kelas ini. Suara keheningan di tempatku membuat ku merasa bersalah karena ku tak berbicara apapun dengannya. “fa, kalo gw ada salah gw minta maaf yaa, gw minta maaf seluas langit dan bumi ke lu, gw ga mau lu ngediemin gw fa. Apa lu marah ke gw gara gara syaila?” ucap feri yang langsung  menatap mataku dengan perasaan bersalah kepadaku. Aku masih terdiam dan tak terucap sedikitpun dari bibirku. Jujur, aku tak bisa mendiamkannya tapi mau gimana lagi, aku bisa apa karena inilah salah satunya cara mendamaikan situasi kemarin. Aku pun langsung pergi ketempat athiya karena ku tak sanggup melihat feri yang selalu mengajakku berbicara. Tenang hatiku yang selalu menutupi kesedihanku ketika ku disamping sahabatku karena perasaanku mulai tergerak untuk mencintainya tapi selalu kucoba untuk tidak terlalu terobsesi memilikinya, sebab hal itu dapat membuatnya pergi dari hidupku. Biarkan saja aku memendam perasaanku sendiri. Bahkan aku tidak masalah jika aku hanya sebatas teman sebangku untuknya, sebab berada di sampingnya itu sudah lebih dari cukup. Mungkin aku memang mencintainya dalam diam, dan entah kapan semua ini akan bertahan karena apa dayaku untuk menyukainya. “lu bisa ga sih berhenti suka sama gw, gw ga mau ngecewain lifa” sontak feri kepada syaila yang penuh kesal dengannya setelah ia melihatku pergi ketempat sahabatku.  

Sebulan kemudian, aku terpilih lomba nasional oleh guruku, aku kaget dan butuhnya motivasi itu pasti penting bagiku. Banyak motivasi yang kudapati  dari sahabatku, teman temanku, guruku, terutama dia yang selalu ingin sekali menjadi pemilik hatiku yang tak pernah kumiliki yang hadir sebagai bagian dari kisah hidupku, feri. “ fa, bolehkan sebelum lu berangkat untuk lomba gw ngungkapin apa yang gw pendam dari dulu?” tanya feri kepadaku sambil menuju ke taman. “boleh, kenapa fer?” jawabku. “I LOVE YOU” ucap feri yang memegang tanganku dengan penuh keyakinan dan senyuman kepadaku. Seketika itu juga ada yang beda dengan rasaku, hatiku berdegub kencang serta lidahku kelu bahkan pandanganku sangat sulit untuk berpaling dari sosoknya. Karena bagiku, ia bisa meruntuhkan egoku yang bukan satu hal yang mudah dan dengan kasih lembutnya ia pecahkan egoku. Karena selama ini diam diamku mencintainya dan sudah bosan rasanya ku pendam rasa suka ini kepadanya namun apa dayaku untuk menyukainya dan ternyata perasaan itu ku keluarkan seketika itu juga “I LOVE YOU TOO” jawabku yang langsung dipeluk oleh feri.

 “dorrr,,” sautan dari temanku sekelas. “kenapa syaila tak cemburu aku berdua dengan feri atau mereka sudah putus?” batinku. “ini fa, gw sebagai perwakilan kelas, kita kasih bucket coklat dan sepatu buat lu biar lu semangat ngikutin lombanya” ucap athiya yang langsung menyerahkannya kepadaku. “plus feri udah ngasih hatinya ke lu kan?” canda syaila yang penuh ketawa. “tenang saja gw udah putus kok fa, semangat yaa lombanya” ucap syaila yang membuatku lega dari semua ini. “ini fa buat lu” ucap feri sambil memberiku gelang pasangan dan langsung memasangkannya ke tanganku. “cieee” sautan teman sekelasku yang membuatku merasa malu dihadapan mereka semua. “Ya Tuhan terima kasih atas ini semua, sungguh rencanaMu tidak dapat ku duga untuk bisa mengutarakan perasaanku untuk menyukainya” batinku. Dan setelah itu tak ada satupun yang menghalangiku untuk mencintainya secara dalam. “lu beruntung dapetin feri fa, karena ia banyak banget disukai sama perempuan, mereka pasti cemburu tapi mau gimana lagi, feri udah suka dari dulu sama lu, dari semenjak lu jadi siswa baru disekolahan ini” ucap dimas kepadaku. Aku kira ini hanya sebuah khayalan, tapi karena feri yang selalu hadir dan mencintaiku, maka aku katakan ini adalah hidup pertama kali dengan hati yang sempurna dan tulus hati yang kumiliki.  

 

 

 

Komentar

Postingan Populer