Hampir Kutinggalkan, Namun Takdir Memanggil
Kudengar adanya program pertukaran pelajar dalam prodiku, membuatku seperti lampu rambu lalu lintas yang dimana ada waktu untuk berhenti ada waktu untuk bersiap siap tapi dengan keraguan dan waktu untuk melanjutkan
perjalanan. Aku merasa terabaikan pada diriku sendiri yang berawal menolak dan bahkan berhenti untuk memikirkan hal itu. Lantas mengapa dalam fikiran dan hati ini selalu menggebu untuk mewujudkannya, arah yang tak pernah terbayangkan dan memaksakan kehendak diriku terdorong oleh emosiku yang masih belum stabil ini akhirnya terambang dalam penuh keraguanan. Mengapa dengan hal yang satu ini aku seperti orang yang tidak mau kalah dalam hal egonya? bimbang pasti, karena ini adalah program yang membutuhkan ridho dan biaya yang banyak dari orang tuaku. Lampu kuningku yang sudah ingin diganti dengan warna hijau ini membuatku bertanya tanya, "apakah ini yang terbaik untukku atau aku hanya iri terhadap sesuatu?"gumamku.
Sulit diri ini untuk berdamai dengan logika dan hati yang selalu menyebutnya karena itu lah yang pernah terlintas dalam perkataan ayahku. Sejak aku masih kecil, yang dimana ayahku selalu mendukungku untuk selalu belajar dengan apa yang aku inginkan untuk merantau dan mencari sesuatu hal yang baru dan sampaikanlah pada waktunya sekarang yang dimana sang pencipta menunjukkan kekuasaannya. Dan dari sinilah benakku ingin sekali menautkannya pada hari yang kelak masa itu akan datang.
Masa itu pun tiba, lampu hijauku pun meronta ingin sekali untuk mengikutinya. Diri yang tak tahu malu ini akhirnya memberanikan diri untuk menelfon orang tuanya yang Padahal tau kalo ini berat banget untuk mengambil keputusan. Anak pertama perempuan yang tak ingin memberatkan pundak orang tuanya demi keinginannya. Akan tetapi, serasa diriku ini tak lagi dapat dikendalikan untuk membicarakan hal itu kepada orang tuaku dengan penuh rendah hati dan sadar diri. Dan itu siapa lagi kalo bukan aku. terpenuhi atau tidaknya keinginanku ku serahkan padamu ya Allah,, karena atas segala kekuasaanmu pasti engkau akan memudahkannya jika engaku meridhoinya. Kecewa, ragu, malu, takut memberatkan orang tua dan keinginanku pada impianku itu yang aku lewati saat itu. bercampur aduk semua rasa ini yang aku derita selama menelfon itu yang tak pernah ku alami sebelumnya. Darah rendahku menambah bebanku ketika itu datang tanpa aba aba. Sejauh ini aku belajar dari luka dengan menenangkan hati dan menyembuhkan diri sendiri yang aku kira itu tak akan tergapai. aku pun tahu sendiri kalo kuota tersebut hampir saja sudah tertutup rapi yang pastinya kecewa akan memelukku sebentar lagi.
Siapa sangka, takdir ini berkata lain, yang ku kira harapan hanya sebatas angin pun akhirnya menjadi harapan telah melewati angin. aku berhasil melewati hujan air mata yang sangat deras tanpa arah kemana aku harus kembali seperi semula. Namun, Allah lah yang meridhoiku dengan melewati perantara ayahku untuk mengabulkannya. ting... notif laptopku yang pernah aku mimpikan selama aku sakit. ku kira hanyalah sebatas mimpi, tapi ini aku melewatinya yang sama persis untuk kedua kalinya aku melihatnya di kehidupan yang nyata. " kalo masih ada kesempatan belajar di brunei, ikut aja kak,, insya Allah ayah usahain". Derai air mata yang kuulangi kedua kalinya seperti hujan yang kupeluk dengan dinginnya dunia tapi aku bisa melewatinya. senyum, sedih, terharu, bangga sampai aku bingung rasanya gimana cara mengungkapkan terima kasih untuk orang tuaku yang percaya dengan anaknya yang masih rendah ini untuk melewati badainya sendiri. Mustahil, Pasti. Nyata, akhirnya telah terwujud. Itulah dalam fikiranku yang selalu bergejolak untuk selalu percaya pada takdirnya.
Ku mulai kisahku dengan beribu drama yang mengetuk pintu hidupku, entah ia tertawa, menangis, ataupun terluka untuk sampai kepadanya. Sampai akhirnya ia hadir dan memeluk untuk menjadi kenyataan dalam alur hidupku. Seiring berjalannya waktu, satu persatu aku penuhi semua prosesku bersama teman temanku yang mengikuti exchange ini yang penuh kesungguhan demi tujuan itu. Susah, senang, sedih, kesal yang menyelimuti kami semua untuk selalu tumbuh bersama dalam awal proses itu. Karena aku yakin Allah selalu bersama hamba hambanya yang ingin menuntut ilmu di jalannya. Mungkin dari sini aku belajar, bahwa segala sesuatu yang menurut kita itu baik atau buruk entah itu dikabulkan atau tidaknya oleh Allah maka tetaplah berbaik sangka kepada Allah. Surat Perizinan, membuat paspor, dan hal hal lain yang penuh drama yang mungkin hal kesal yang pernah kita laluin, tapi mau gimana lagi,, kita harus melalui hal yang pahit dalam proses agar tahu cara bersyukur dan berterima kasih ke diri sendiri yang sealu support untuk mengharagai setiap prosesnya. Lika liku kehidupanlah yang membuat kita kuat untuk menerjang badai yang akan dikenang setiap prosesnya.
"Impianku yang salah, waktunya yang salah atau aku yang kurang bersyukur" hampir saja singgah difikiranku. Berat rasanya untuk melepaskan dua tanggung jawabku yang dimana aku pernah memberanikan diri untuk menyusun peran anggotaku untuk berbaris rapi demi tujuan bersama yang dinanti. Dan siapa yang paling baik untuk menggantikan peranku untuk merancang timming dan rundown acara terbaik kita dipenghujung semester ini?. Jujur, dua hal yang paling berat aku tinggalkan dan yang paling sering aku ceritakan ke Allah untuk orang yang menggantikan peranku saat aku tak lagi di tanah air nanti. Tapi aku percaya pasti orang yang menggantikan peranku lebih baik untuk mensukseskan acara ini nantinya.
Kehidupanku yang hanya melewati kebiasaan hal pelajar semestinya seperti halnya presentasi, mengikuti organisasi dalam kampus atau berbagai kegiatan dalam kampus mungkin dengan siapa sangka akan Allah kasih pengalaman paling berharga dalam alur hidupku untuk pergi ke negara yang islami, damai, tentram. Beribu kata yang kulanturkan لا اله الا أنت Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ùƒ إني كنت من الظالمين yang kupeluk dalam kehidupanku ini mengubah haluanku untuk menjadi insan lebih baik yang tak pernah terlintas difikiranku. Sholawat yang tak pernah kulupa setiap malamku untuk memudahkan segala hal yang ku upayakan setiap prosesku. Setiap proses yang aku lewati satu persatu kini hanya menghitung tanggal dimana aku ingin sampai ke tujuanku yaitu belajar di Brunei Darussalam.
Hari demi hari yang dimana cepat tak terasa untuk merangkul teman-temanku sebelum aku pergi. Sungguh, berat rasanya meninggalkan teman seperjuangan sendiri untuk menuntut ilmu di lain tempat. Maaf yang sering ku ucap, ribuan terima kasih uluran tangan temanku untuk memudahkan urusanku sebelum keberangkatan, berat rasanya untuk meninggalkan mereka semua ketika aku dan teman temanku ingin pergi untuk meninggalkan kampus. Peluk hangat dan derasnya air mata yang tak bisa dihentikan karena perpisahan untuk melanjutkan perjuangan ditempat masing masing.
Pada akhirnya, semua yang kulalui hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang menuju mimpiku. Aku belajar bahwa setiap keraguan, air mata, dan doa bukanlah penghalang, melainkan jalan yang menuntunku sampai di titik ini. Perjalanan ini belum selesai, justru baru saja dimulai. Aku percaya, masih banyak kisah yang akan kutulis, pelajaran yang akan kuambil, dan rasa syukur yang akan kupeluk di setiap langkahku. Sampai di sini dulu ceritaku, karena masih ada bab selanjutnya yang menantiku untuk kuceritakan di part 2. 🌸✨


Komentar
Posting Komentar