Akibat Sosial Media
Pagi ini seperti biasa Fina terbangun dari tidur lelapnya, semalam tidur dan mimpinya indah sekali. Sampai sampai hari ini dia telat bangun tidurnya. Karena kemarin malam Fina menghabiskan malamnya dengan chat di sosial media. Sampai sampai dia lupa kalau hari sudah malam.
“Selamat Pagi Dunia” sapa Fina dengan nada semangat.
“kring… kringgg” suara Handphonenya berbunyi sontak Fina segera mengambil ponsel yang terletak tepat dibawah bantalnya. Ternyata itu adalah notifikasi jejaring sosial. Ya, Fina memang sangat aktif dalam jejaring sosial seperti Facebook, Path , Instagram, Twitter, BBM, Line dll. Bahkan yang ia lakukan setiap pagi bukannya segera mandi atau merapihkan tempat tidur malah segera update status serta membalas pesan. Fina sangat mencintai smartphone yang ayah berikan kepadanya. Smartphone yang selalu ia idam-idamkan ini akhirnya ia dapatkan. Ketika ia sedang asyik dengan ponselnya. Bunda memanggilnya “Fina, kamu sudah bangun nak. Ayo cepat kamu siap siap pergi ke sekolah”. Fina segera beranjak dari tempat tidurnya dan pergi sekolah. Ia masih duduk di kelas 2 SMK di sekolah yang cukup favorit di kota Jakarta. Seperti biasa ayah mengantarnya pergi sekolah , kebetulan kantor ayah dan sekolahnya cukup dekat. Kami pun tiba tepat digerbang sekolah.
“Yah, Fina masuk dulu ya… bell mau berbunyi” Ucap Fina dengan tergesa-gesa.
“Iya nak, semangat ya belajarnya kamu harus jadi anak kebanggaan ayah dan bunda” Kata ayah dengan semangat. Fina pun segera memasuki kelasnya. Saat itu pelajaran Sejarah dimulai, Fina sama sekali tidak memperhatikan apa yang Ibu Guru sampaikan di depan kelas. Yang dia lakukan hanya sibuk dengan ponselnya. Sesekali Ibu Guru melihat apa yang dilakukan Fina, namun Fina bisa mengelak dengan pura-pura menulis materi.
Bel istirahat pun berbunyi
“Fina, yuk kita pergi ke kantin bosan nih di kelas terus” ajak Febi salah satu sahabat Fina
“Aku ga mau ah feb, aku bawa makanan dari rumah. Kamu aja bareng Sisi” Fina menolak ajakan Febi.
“Oh ya udah kita pergi dulu Fina kalau ada apa apa bilang ya.” Febi dan Sisi ke kantin bersama.
“Sis, ada yang aneh deh dari Fina. Dia selalu saja sibuk dengan ponselnya . Udah jarang sekali dia barengan sama kita. Apakah teman-teman di BBM nya lebih asyik dari kita atau mungkin dia lagi ngelakuin sesuatu dengan ponselnya” kata Febi dengan penuh tanda Tanya.
“Udahlah feb biarkan saja dia asyik dengan dunia nya sendiri. Kalau udah kecanduan ya kayak begitu. Lupa sama orang orang di sekitarnya. Biarlah nanti juga kalau inget dia pasti bareng kita. Gak usah khawatir toh dia juga udah gede” Jawab Sisi dengan nada cuek.
Sore itu, Fina pulang sekolah. Fina masih asyik dengan ponselnya. Bagi dirinya, sekarang merupakan barang yang sangat berharga karena tanpa smartphone canggihnya itu hidupnya terasa sangat hampa, teman teman di kontak BBM nya yang selalu menghubungi Fina, padahal Fina sendiri belum pernah menatap muka langsung orang-orang yang ada di BBM nya itu . Hanya teman dunia maya. Mungkin, menurut Fina teman dunia maya lebih asyik dibandingkan dengan dunia nyata.
“Fina Anatasya, kenapa kamu asyik sekali berbicara di BBM , emang kamu sedang berbicara dengan siapa?” Tanya bunda dengan heran.
“Gak kok bun, cuman sekedar teman-teman di BBM saja” jawab Fina sambil melirik ponselnya itu.
Fina tidak sadar bahwa orang orang di sekitarnya itu tidak suka dengan tingkah Fina , seolah olah dunia nya hanya disana saja. Teman-teman Fina pun mulai menjauhinya .
“Fina sudah tidak asyik lagi” ungkap teman-teman Fina
Fina tidak menghiraukan cemoohan teman-temannya itu. Fina mengutarakan apa yang dia alami kepada teman-teman dunia mayanya. Bahwa teman-temannya menjauhinya.
Lama kelamaan Fina menyadari bahwa tingkahnya selama ini salah, ia berusaha untuk mendekati teman-temannya. Sahabatnya yaitu Febi dan Sisi
“Feb, Sis ke kantin bareng yuk . sudah lama kita ga ke kantin barengan” Ajak Fina
“hmm, ngapain kamu ngajak kita, bukannya kamu punya temen sendiri ya” tolak Febi dengan nada sindiran
Febi dan Sisi pergi tanpa mempedulikan Fina. Fina melihat ke arah sekitar , melihat teman- temannya yang sedang asyik berbincang. Hati Fina teriris ia menyadari ternyata di sekitarnya lebih mengasyikan dibanding dengan dunia maya. Ia tertunduk dan menyesali tingkahnya selama ini. Tingkah yang ia lakukan ternyata menjauhkan dirinya dari orang-orang sekitarnya.
“Febi, Fina kasian juga feb kita giniin. Mending kita ajak dia aja yuk bareng-bareng sama kita” Ungkap Sisi kepada Febi.
“Aku, sengaja bersikap seperti ini dulu sama Fina soalnya aku pengen dia nyadar kalau orang – orang di sekitarnya masih peduli. Biar dia gak terlalu fanatik sama teman-teman di sosmed nya yang padahal Fina sendiri belum pernah bertatap muka langsung. Aku sayang sama dia aku ga mau Fina kenapa napa” Ungkap Febi dengan penuh kasih sayang.
Sebenarnya bukan masalah ponselnya yang ia puya sekarang tapi memang zaman sekarang sangat mudah untuk berkomunikasi, berdiskusi di sosmed memang cukup mengasyikkan apalagi jika kita sedang bosan dan sendiri sosmed bisa membuat kita tidak bosan lagi bahkan lebih mengasyikkan. Orang-orang sepertinya itu sudah lupa bahwa mereka sudah merasakan suatu pengaruh . Orang-orang yang berada di dekat kita menjadi jauh begitu pun sebaliknya orang-orang yang jauh menjadi dekat. Bahkan orang yang belum pernah kita ketemu menjadi kenal dengan adanya sosmed, orang orang dari belahan jiwa mana pun bisa kita kenal. Semuanya tergantung bagaimana cara kita menyikapi pengaruh tersebut.
“Fina, kenapa kamu termenung begitu, biasanya kamu asyik dengan teman-teman di BBM kamu” Tanya bunda dengan heran dan cemas apa yang telah terjadi kepada anak bungsunya itu.
“gak apa-apa kok bun, gak usah khawatir” jawab Fina dengan lesu.
“bunda paham dan tau kok kamu lagi ada masalah kan , Bunda bisa liat dari ekpresi wajah kamu. Perasaan seorang ibu gak bisa dibohongi” kata bunda sambil memeluk Fina dengan lembut.
“Baiklah bun, jadi begini teman-teman sekolah Fina menjauhi Fina termasuk Febi dan Sisi, gara-gara Fina terlalu asyik dengan teman-temen di BBM. Mereka anggap kalau Fina sudah punya dunia sendiri. Banyak yang mencemooh Fina katanya Fina udah gak asyik lagi, awalnya Fina tidak menghiraukan omongan mereka tapi sekarang Fina sadar kalau Vina salah. Vina ingin memperbaiki kesalahan Vina . Vina kesepian bun, Fina pengen punya banyak teman lagi seperti dulu. Fina pengen ngobrol sama temen-temen, curhat-curhatan lagi, makan barengan lagi. Fina sayang sama mereka bun” Ucap Fina sembari memeluk ibunya dan menangis.
“Gak usah menangis nak, kamu juga salah kamu bermain sosial media dengan lama padahal kamu tidak tau sosial media itu bertemu dan bercakap langsung bukan tanpa perantara, lebih baik kamu minta maaf sama teman-teman kamu atas sikapmu selama ini, mamah yakin temen-temen kamu pasti maafin kamu sayang dan syukurlah kalau kamu menyadari sikapmu selama ini. Jangan bersedih lagi sekarang mending kamu tidur, besok kamu lakukan apa yang Bunda kasih tau. Semangat ya sayang” kata Bunda dengan penuh nasihat.
Keesokan harinya Fina masuk sekolah dan ia berdiri di depan papan tulis dan meminta maaf sama teman-temannya.
“Temen, aku minta maaf karena udah gak menghiraukan kalian, cuek dengan kalian, aku terlalu asyik dengan duniaku sendiri. Aku menyesal, aku janji gak akan bertindak seperti itu lagi, sekarang aku sendiri, aku kesepian aku butuh kalian teman-teman. Aku benar-benar menyesal” Ucap Fina dengan penuh penyesalan. Lalu teman-teman Fina tersentuh hatinya, dan mereka memaafkan Fina . Sahabat Fina yakni Febi dan Sisi pun melangkah menghampirinya dengan wajah yang penuh haru melihat Fina.
“Fina, kamu jangan menangis lagi ya kita sudah memaafkan kamu kok, kita sengaja menjauhi kamu dulu agar kamu menyadari tingkah laku kamu itu salah, kita peduli sama kamu kok kita sayang sama kamu. Kita ingin yang terbaik buat kamu. Ingin melakukan canda tawa lagi sama kamu ayo kita lulus bareng-bareng, susah bareng-bareng dan senang bareng-bareng. Tidak usah menagis Fina lupakan hal yang dulu Fina kembali lah seperti Fina yang dulu sebelum bertemu dengan sosial media” kata Febi dengan senang hati karena sahabatnya telah kembali, dan Fina telah bisa merasakan bahwa di sekitarnya ingin menemaninya bukan hanya teman di social medianya saja. Mereka pun kembali akur, suasana di kelas kembali hangat. Dan Fina juga menyadari jika sosial media yang asli ialah bertemu dan bercakap langsung tanpa perantara.



Komentar
Posting Komentar